Back to Blog DevOps & Scalability

Dari Monolith ke Microservices

Microservices bukan tahap “lebih dewasa” yang wajib dicapai. Ia masuk akal ketika batas domain, kebutuhan scaling, dan struktur tim sudah menuntut deployment independen—dan organisasi siap membayar biaya operasionalnya.

Tetap monolithTim kecil, domain berubah cepat, operasional sederhana
Pertimbangkan splitBatas domain stabil, bottleneck jelas, ownership terpisah

Mulai dengan modular monolith

Pisahkan modul berdasarkan capability bisnis, bukan layer teknis global. Modul Orders tidak boleh membaca tabel Payments secara sembarangan; komunikasi melewati kontrak internal.

Text
src/
  Orders/
    Application/
    Domain/
    Infrastructure/
  Payments/
    Application/
    Domain/
    Infrastructure/
  Identity/
    ...

Pilih service pertama dengan risiko rendah

Kandidat baik memiliki boundary jelas, perubahan terukur, dan sedikit transaksi lintas domain. Image processing, notification, atau reporting sering lebih aman daripada langsung memisahkan checkout inti.

Strangler pattern

  1. 1
    Letakkan gateway di depan monolith.
  2. 2
    Arahkan satu capability baru ke service terpisah.
  3. 3
    Sinkronkan data melalui API atau event yang terdefinisi.
  4. 4
    Pantau hasil dan pindahkan traffic bertahap.
  5. 5
    Hapus kode lama setelah tidak ada consumer.

Biaya yang sering diremehkan

Observability

Trace request lintas service.

Platform

Deployment, secret, service discovery.

Testing

Contract dan integration environment.

Data ownership

Tidak ada join bebas antar-database.

On-call

Kegagalan parsial dan retry.

Governance

Versioning dan kompatibilitas API/event.

Ukuran keberhasilan migrasi

Deployment lebih independen, lead time turun, incident dapat diisolasi, dan tim memiliki ownership yang jelas. Jika hasilnya hanya repository bertambah tanpa perbaikan delivery, migrasi belum memberi nilai.

Share this article

Related articles

Copied